Musim ini menjadi salah satu periode paling membingungkan bagi Real Madrid. Performanya naik turun, strategi yang tidak berjalan mulus, hingga inkonsistensi para pemain kunci membuat Los Blancos tampak kehilangan identitas permainan. Situasi ini kemudian memunculkan satu pertanyaan besar di kalangan penggemar dan pengamat sepak bola: bagaimana nasib Xabi Alonso, sosok yang selama ini digadang-gadang menjadi calon pelatih masa depan Real Madrid?
Real Madrid dikenal sebagai klub yang menuntut kesempurnaan. Sedikit saja performa merosot, tekanan eksternal maupun internal langsung meningkat tajam. Musim ini, rentetan hasil buruk membuat publik menyorot banyak aspek, termasuk kesiapan tim, arah taktik, hingga rencana jangka panjang klub. Dalam konteks ini, nama Alonso—yang saat ini sedang meniti karier kepelatihannya dengan impresif di klub lain—kembali mencuat sebagai kandidat pengganti ketika situasi memburuk.
Namun kondisi Real Madrid saat ini bukan sekadar masalah teknis. Mereka menghadapi masa transisi besar dalam skuad. Beberapa pemain senior mulai menunjukkan penurunan performa, sementara para pemain muda masih mencari konsistensi di level tertinggi. Kombinasi ini menciptakan situasi rapuh yang sulit diperbaiki dalam waktu singkat. Tekanan media dan suporter pun menambah panas suasana ruang ganti.
Xabi Alonso, di sisi lain, sedang berada di puncak reputasinya sebagai pelatih muda. Gaya bermain yang modern, disiplin taktik yang tinggi, serta kemampuan membangun chemistry dalam tim membuatnya menjadi nama yang sangat diperhitungkan. Banyak pihak percaya bahwa ia adalah sosok ideal untuk memulai era baru Real Madrid. Namun apakah saat ini merupakan momen yang tepat?
Masalahnya, Real Madrid bukan klub untuk belajar. Klub ini menuntut hasil instan, trofi, dan kesinambungan prestasi. Alonso mungkin memiliki potensi besar, tetapi mengambil alih tim dalam kondisi tidak stabil dapat berdampak pada reputasinya yang sedang menanjak. Ia membutuhkan fondasi yang kuat, dukungan penuh manajemen, serta waktu untuk membangun ulang struktur taktik. Pertanyaannya: apakah Real Madrid siap memberikan semua itu?
Selain itu, Alonso sendiri tampaknya masih fokus menyelesaikan proyek yang telah ia bangun. Ia dikenal sebagai sosok yang tidak mengambil keputusan terburu-buru. Keputusannya untuk bertahan atau menerima tawaran klub besar biasanya dipertimbangkan berdasarkan kesiapan tim dan kecocokan visi sepak bola. Jika Real Madrid menginginkan Alonso memimpin revolusi, mereka harus memastikan bahwa struktur klub memberikan ruang bagi pelatih untuk berkembang, bukan sekadar menjadi simbol perubahan instan.
Meski demikian, tekanan terhadap kursi pelatih Real Madrid tetap menjadi faktor penting. Jika performa Los Blancos terus memburuk, pergantian pelatih hampir tidak terhindarkan. Pada saat itulah nama Alonso akan menjadi topik paling hangat. Para suporter menginginkan sosok yang memahami DNA klub, sementara manajemen membutuhkan pelatih dengan kualitas modern untuk membawa tim kembali ke jalur juara.
Ke depan, masa depan Alonso sangat bergantung pada arah kebijakan Real Madrid. Jika klub mampu menata ulang struktur pemain, memperkuat lini yang rapuh, dan memberikan waktu bagi pelatih untuk bekerja, maka peluang Alonso menangani Los Blancos akan sangat terbuka. Namun jika tekanan jangka pendek tetap menjadi prioritas, Alonso mungkin akan berpikir dua kali sebelum menerima tantangan tersebut.
Saat ini satu hal yang pasti: Los Blancos sedang berada dalam periode bapuk yang memerlukan perubahan signifikan. Dan apakah Xabi Alonso akan menjadi bagian dari perubahan itu, masih menjadi teka-teki besar yang membuat dunia sepak bola menunggu dengan penuh antisipasi.

