Kegagalan Tim Nasional Indonesia U-22 dalam mencapai target yang diharapkan memunculkan berbagai reaksi dari publik dan pecinta sepak bola Tanah Air. Di tengah sorotan dan kritik yang mengarah ke berbagai pihak, Sumardji selaku manajer tim tampil ke depan dengan sikap tegas dan terbuka. Ia menyatakan bahwa kegagalan tersebut sepenuhnya menjadi tanggung jawabnya.
Pernyataan Sumardji disampaikan sebagai bentuk kepemimpinan dan komitmen moral terhadap tim yang berada di bawah pengelolaannya. Ia menegaskan bahwa manajer memiliki peran strategis dalam mengatur persiapan, koordinasi, serta memastikan seluruh elemen tim berjalan selaras. Ketika hasil tidak sesuai harapan, maka tanggung jawab tidak seharusnya dibebankan sepenuhnya kepada pemain atau pelatih.
Menurut Sumardji, para pemain Timnas U-22 telah menunjukkan kerja keras dan dedikasi tinggi selama masa persiapan hingga pertandingan. Mereka telah berjuang maksimal di lapangan, membawa nama bangsa dengan penuh kebanggaan. Oleh karena itu, ia meminta publik untuk tidak menyalahkan pemain secara berlebihan, mengingat mereka masih berada dalam fase pengembangan dan membutuhkan dukungan berkelanjutan.
Selain itu, Sumardji juga menyoroti pentingnya evaluasi menyeluruh pasca-kegagalan. Evaluasi tersebut mencakup aspek teknis, nonteknis, manajemen tim, hingga sistem pembinaan jangka panjang. Ia menilai kegagalan bukan akhir dari segalanya, melainkan bagian dari proses pembelajaran untuk membangun tim nasional yang lebih kuat dan matang di masa depan.
Sikap terbuka dan bertanggung jawab yang ditunjukkan Sumardji mendapat apresiasi dari sejumlah kalangan. Di tengah budaya saling menyalahkan yang kerap muncul dalam dunia sepak bola, pernyataannya dianggap sebagai contoh kepemimpinan yang berani dan berintegritas. Hal ini diharapkan dapat menjadi awal dari perbaikan tata kelola tim nasional secara menyeluruh.
Sumardji juga mengajak seluruh pihak, mulai dari federasi, pelatih, pemain, hingga suporter, untuk tetap bersatu dan menjaga kepercayaan terhadap proses pembinaan sepak bola nasional. Dukungan yang konsisten dinilai jauh lebih penting daripada tekanan berlebihan yang justru dapat menghambat perkembangan pemain muda.
Dengan menjadikan kegagalan sebagai tanggung jawab bersama, Sumardji berharap Timnas Indonesia U-22 dapat bangkit dan tampil lebih baik di kesempatan berikutnya. Pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa keberhasilan dan kegagalan dalam sepak bola tidak dapat dipisahkan, namun sikap menghadapi keduanya dengan dewasa adalah kunci untuk meraih kemajuan yang berkelanjutan.

